Arti dan Keutamaan Bacaan Lahaula Wala Quwwata Illa Billah
Ada satu kalimat pendek yang belakangan ini sering saya dengar—baik dari ceramah, media sosial, atau obrolan kecil setelah salat. Kalimat itu berbunyi:
“Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil ‘aẓīm.”
Artinya sederhana, tapi menggugah: “Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan dari Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.”
Di tengah hidup yang tidak selalu memberi petunjuk arah, saya mulai menyadari bahwa kalimat ini bukan sekadar zikir. Ia adalah pengingat lembut bahwa kendali bukan di tangan saya. Saya hanya berjalan sejauh yang Allah izinkan. Saya hanya kuat sebatas yang Allah kehendaki.
Saya pernah mengalami masa-masa penuh kebimbangan. Pikiran bercabang, hati gelisah, tubuh lelah. Semua nasihat seperti tak cukup menenangkan. Namun entah mengapa, ketika saya mengucap pelan kalimat ini—lahaula walaquwwata illa billah—ada yang tenang di dalam hati. Mungkin karena saya sedang mengaku bahwa saya lemah. Dan justru dari pengakuan itulah, kekuatan lahir.
Tulisan Arab lahaula wala quwwata illa billah

Berikuttulisan lahaula wala quwwata illa billah menggunakan bahasa Arab, latin, dan artinya.
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ
Arab-latin: Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīm(i).
Artinya: “Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang maha tinggi lagi Maha Agung.”
Kalimat ini dikenal sebagai hauqalah. Ia disebut oleh Nabi Muhammad SAW sebagai salah satu simpanan paling berharga di surga. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Nabi bersabda kepada Abdullah bin Qais:
يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ قَيْسٍ، أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوْزِ الجَنَّةِ؟ قُلْتُ: بَلى يَا رَسُوْلَ الله، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
Artinya: “Wahai Abdullah bin Qais, maukah aku tunjukkan kepadamu suatu simpanan dari berbagai simpanan surga?” Aku menjawab: “Tentu, wahai Rasulullah.” Kemudian beliau bersabda: “La haula wala quwwata illa billah.” (HR al-Bukhari). (Majduddin al-Jaziri, Jâmi’ul Ushûl fî Ahâdîstir Rasûl, [Beirut, Dârul Kutubil ‘Ilmiyyah: 1972], juz IV, halaman 176).
Ini adalah tanda bahwa manusia yang mengaku tidak punya kekuatan, justru sedang membuka pintu kekuatan yang sesungguhnya. Ketika saya menyerah bukan karena kalah, tapi karena sadar tidak mampu tanpa pertolongan-Nya, di sanalah saya merasa lebih kuat dari sebelumnya.
Menyembuhkan, Menenangkan, Menuntun
Saya juga menemukan bahwa zikir ini disebutkan sebagai obat dari 99 penyakit, dan penyakit paling ringan adalah kebimbangan. Saya mengangguk dalam hati saat membaca itu—karena kebimbangan memang menyiksa. Ia membuat kita diam di tempat, takut mengambil langkah, dan ragu bahkan terhadap doa sendiri.
Tapi kalimat ini seperti lentera kecil di tengah kabut. Ia tidak serta merta menyapu habis semua masalah, tapi ia memberi kita pegangan. Setidaknya satu pegangan: bahwa kita tidak sendirian. Dan tidak harus kuat sendirian.
Selain itu, Rasulullah juga menyarankan bacaan ini ketika azan dikumandangkan, terutama saat terdengar “hayya ‘alash shalah” dan “hayya ‘alal falah.” Dua seruan itu mengajak kita menuju salat dan kemenangan, dan kalimat lahaula walaquwwata illa billah menjadi jawaban paling tepat: “Aku ingin datang ya Allah, tapi aku hanya bisa jika Kau beri aku kekuatan.”
Dari Surga, untuk yang Masih Berjuang di Dunia
Saya pernah membaca bahwa jika bacaan ini diucapkan 100 kali setiap hari, seseorang akan dijauhkan dari kefakiran. Jika dibaca 300 kali, Allah akan memberikan jalan keluar dari segala kesulitan. Entah bagaimana, angka-angka itu tak lagi terasa seperti “target magis,” tapi lebih seperti latihan harian untuk meyakini bahwa saya tidak harus memikul semua hal sendirian.
Saya mulai mengucapkannya saat gelisah, saat penat, atau saat merasa bodoh karena membuat keputusan yang salah. Saya juga membacanya ketika tidak tahu harus berkata apa dalam doa. Kalimat ini menjadi tempat saya berteduh, terutama ketika kata-kata lain terasa kosong.
Kalimat lahaula walaquwwata illa billah bukan mantra ajaib. Ia tidak membuat masalah hilang dalam sekejap. Tapi ia bisa membuat kita berdamai, menerima, dan tetap melangkah.
Ia bukan solusi instan, tapi pengingat abadi bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari segala daya kita: kekuatan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
Dan terkadang, itu saja sudah cukup.