Home Blog Pengetahuan Arti Telinga Kiri Berdenging Menurut Islam dan Medis

Arti Telinga Kiri Berdenging Menurut Islam dan Medis

Telinga berdenging, apalagi jika terjadi secara tiba-tiba, seringkali bikin kita bertanya-tanya. Apakah ini cuma gangguan kesehatan biasa, atau ada makna lain di baliknya? Beberapa orang percaya bahwa jika telinga kiri berdenging, itu pertanda ada orang yang sedang membicarakan kita secara negatif. Tapi bagaimana Islam memandang fenomena ini?

Dalam Islam, semua peristiwa yang terjadi pada tubuh kita, termasuk telinga berdenging-perlu dilihat secara bijak. Jangan sampai kita langsung mengaitkan hal-hal yang tidak jelas sumbernya dengan pertanda atau ramalan yang bisa menjerumuskan ke arah takhayul.

Berikut ini adalah lima penjelasan mengenai makna telinga kiri berdenging menurut Islam yang bisa kamu jadikan bahan renungan.

1. Tidak ada dalil khusus yang membahas telinga berdenging

Hal pertama yang perlu diluruskan adalah, tidak ada dalil eksplisit dalam Al-Qur’an maupun hadis yang membahas langsung soal telinga kiri berdenging. Jadi, kalau kamu mendengar orang berkata bahwa itu pertanda akan mendapat kabar buruk atau sedang dibicarakan orang lain, itu bukan ajaran Islam yang sahih.

Dalam Islam, keyakinan terhadap sesuatu harus memiliki landasan yang kuat. Kita dianjurkan untuk tidak meyakini hal-hal ghaib tanpa dalil yang jelas. Rasulullah SAW sendiri memperingatkan umatnya agar menjauhi keyakinan yang tidak berdasar, karena bisa mengarah pada syirik kecil jika dibiarkan terus-menerus.

2. Islam mendorong umatnya untuk mencari sebab ilmiah terlebih dahulu

Telinga berdenging, atau dalam dunia medis dikenal sebagai tinnitus, sering kali merupakan gejala dari kondisi fisik tertentu. Ini bisa disebabkan oleh paparan suara keras, tekanan darah tinggi, stres, atau bahkan masalah di telinga bagian dalam.

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk menjaga kesehatan, termasuk dengan memeriksa kondisi tubuh secara medis jika terjadi hal-hal yang tidak biasa.

Jadi, kalau kamu merasakan telinga kiri berdenging terus-menerus, jangan buru-buru mencari arti mistisnya. Lebih baik konsultasikan dulu ke tenaga medis atau dokter THT.

3. Hindari percaya pada mitos atau ramalan

Dalam budaya masyarakat Indonesia, banyak beredar mitos tentang telinga berdenging. Misalnya, telinga kiri berdenging berarti ada yang menjelekkan kita, sedangkan telinga kanan berarti ada yang memuji. Mitos seperti ini memang menarik, tapi tidak boleh dijadikan dasar keyakinan, apalagi sampai membuat kita su’udzon atau berburuk sangka pada orang lain.

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau peramal, lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka sungguh dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad SAW.”

Meskipun mitos telinga berdenging tidak seberat pergi ke dukun, prinsipnya tetap sama: Islam mengajarkan kita untuk menyaring informasi dan tidak percaya pada hal-hal tanpa bukti.

4. Jadikan momen berdenging sebagai pengingat untuk berdzikir

Alih-alih bingung mencari-cari arti telinga berdenging, akan jauh lebih baik jika kamu menjadikannya sebagai pengingat untuk berdzikir dan mendekatkan diri kepada Allah. Bisa jadi itu hanya cara tubuh mengingatkan kita untuk berhenti sejenak dan kembali mengingat-Nya.

Allah berfirman dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Dengan berdzikir, membaca istigfar, atau sekadar menyebut nama Allah dalam hati, kamu bisa menenangkan pikiran dan tubuh. Ini jauh lebih baik daripada tenggelam dalam asumsi atau prasangka buruk.

5. Serahkan semuanya kepada Allah dan tetap bersikap tenang

Sebagai Muslim, kita percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah atas izin Allah. Termasuk hal-hal kecil seperti telinga berdenging. Mungkin itu memang gejala medis, mungkin juga hanya kebetulan. Namun yang pasti, kita dianjurkan untuk bersikap tenang, tidak gegabah, dan selalu bertawakal.

Dalam QS. At-Talaq ayat 3 disebutkan:

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).”

Artinya, apapun yang kita alami-entah itu sakit ringan, gangguan fisik, atau perasaan tidak nyaman-semuanya bisa jadi bagian dari ujian atau bentuk perhatian dari Allah. Yang terpenting adalah bagaimana kita meresponsnya: dengan hati yang tenang, pikiran jernih, dan iman yang kuat.

Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk tidak langsung mempercayai mitos atau pertanda yang tidak memiliki dasar yang kuat. Alih-alih tenggelam dalam asumsi, lebih baik kita memahami kondisi tubuh dengan cara medis.

Tambahkan Komentar

Sign up to receive the latest
updates and news

© 2025 Transaksion – Situs Jual Beli Barang & Jasa. Seluruh hak cipta dilindungi.