Home Blog Informasi 100 Ayat Al-Quran Tentang Orang Kafir yang Menutup Kebenaran

100 Ayat Al-Quran Tentang Orang Kafir yang Menutup Kebenaran

Dalam bahasa Arab, kafir (كَافِر) berasal dari kata kafara (كَفَرَ) yang berarti “menutupi” atau “menolak.”

Ini adalah kata yang sopan menurut kaidah Bahasa Arab yang artinya “menutup diri”. Tertutup dari apa? Dalam hal ini tentu saja kebenaran menurut agama Islam.

Hal ini juga disampaikan oleh Ustadz Khalid Basalamah dalam ceramahnya, ia mengatakan bahwa semua orang di luar agama Islam adalah kafir.

Namun, secara makna, kafir ini bisa lebih luas. Orang yang menjual agamanya demi pangkat, demi jabatan, demi uang juga masuk dalam kategori ini.

Oleh sebab itu muslim pun sangat layak menyandang gelar ini meski KTP-nya Islam, karena dia menggunakan agamanya untuk kepentingan pribadi. Mengutip ayat hanya untuk membenarkan kesalahannya.

Jika kita teliti, orang dengan tanda seperti itu sangat mudah kita jumpai.

Sayangnya saat ini kata tersebut sering digunakan untuk memanggil orang dan agama lain dengan maksud merendahkan, jadi tak heran kalau orang lain merasa tersinggung.

Kumpulan Ayat Al-Quran Tentang Orang Kafir


Peyorasi Kata  Kafir

Al-Quran (Unsplash.com/AmirHadi Manavi)
Al-Quran (Unsplash.com/AmirHadi Manavi)

Peyorasi artinya perubahan makna yang dulunya baik menjadi terkesan lebih buruk atau jelek.

Saat ini tidak ada orang (normal) yang mau disebut kafir karena memang kata tersebut kerap digunakan muslim untuk memanggil umat agama lain dengan tendensi menghina.

Bahkan teman sendiri yang dirasa tidak sesuai dengan level keimanannya pun ikut dipanggil demikian dengan maksud merendahkan.

Secara tersirat, orang yang suka mengkafirkan orang lain sebetulnya sedang menegaskan diri bahwa dirinya lebih baik dari orang lain. Dia butuh validasi, setidaknya dari dirinya sendiri.

Cak Nun memiliki sudut pandang yang menarik soal hal ini. Ia mengatakan bahwa yang pantas untuk memberi gelar kafir hanya Tuhan saja.

Itu adalah hak prerogatif dari-Nya, kita tidak berhak untuk mencampuri atau bahkan merasa mewakili Tuhan atas semua itu.

Apakah anda tidak malu kalau sudah menuduh orang lain, merasa lebih beriman ketimbang orang lain tapi ternyata Tuhan tidak mengakui keimananmu karena dirimu hanya beragama untuk bisa menyombongkannya?!

Atau,

Anda bisa mengambil pilihan kedua, yaitu konsekuensi. Anda berhak memanggil seseorang dengan sebutan kafir tapi orang tersebut juga berhak memanggil anda “domba yang tersesat”.

Karena menurut sudut pandang agama lain, anda juga kafir (versinya). Anda harus fair di sini.

Larangan Menuduh Orang Lain

Nabi Muhammad ﷺ tidak secara mutlak melarang penggunaan kata “kafir”, tetapi beliau memberikan peringatan keras agar tidak sembarangan menuduh seseorang sebagai kafir. Dalam hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila seseorang berkata kepada saudaranya, ‘Wahai kafir,’ maka akan kembali kepada salah satu dari keduanya. Jika memang benar, maka dia kafir. Namun, jika tidak benar, maka perkataan itu akan kembali kepada orang yang mengatakannya.”

(HR. Al-Bukhari No. 6104, Muslim No. 111)

Hadis ini menunjukkan bahwa menuduh seseorang sebagai kafir tanpa alasan yang jelas bisa menjadi bumerang bagi si penuduh. Oleh karena itu, dalam Islam, penentuan status itu harus berdasarkan bukti yang jelas dan sesuai dengan prinsip-prinsip syariat.

Sebagai penutup, nabi saja meng-Islamkan orang kafir, sedangkan umatnya justru mengkafirkan orang lain, bahkan sesama muslim. Apakah kita tidak malu?!

 

Tambahkan Komentar

Sign up to receive the latest
updates and news

© 2025 Transaksion – Situs Jual Beli Barang & Jasa. Seluruh hak cipta dilindungi.