Home Blog Informasi Arti dan Makna Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban

Arti dan Makna Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban

Pernahkah Anda mendengar kalimat Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban? Mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, tetapi sesungguhnya ini adalah bagian dari sebuah surat penting dalam Al-Qur’an.

Ungkapan ini sering muncul pada Ar-Rahman dalam Quran. Muslim di Indonesia sendiri sering mengucapkannya tanpa tahu arti dan makna sebenarnya.

Selain itu, dengan membaca maupun melafalkannya akan mengingatkan kita untuk menghindari sifat sombong dan merasa cukup. Dalam berbagai nikmat yang Allah berikan, kita akan semakin sadar bahwa kita adalah hamba-Nya yang membutuhkan-Nya. Ini membantu menjaga kerendahan hati dan kualitas pribadi yang lebih baik.

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban

Al-Quran (Unsplash.com/AmirHadi Manavi)
Al-Quran (Unsplash.com/AmirHadi Manavi)

Ini adalah bagian dari Surat Ar-Rahman, surat ke-55 dalam Al-Qur’an. Frasa ini secara harfiah berarti “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” atau dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi “So which of the favors of your Lord would you deny?

Surat ini menekankan tentang keagungan, kebijaksanaan, dan rahmat Allah terhadap ciptaan-Nya.

Sebenarnya Tuhan “menantang” manusia dan jin yang mempertanyakan atau menyepelekan nikmat Tuhan. Ini merupakan bentuk teguran tidak langsung untuk kita yang sering mengabaikan, tidak mengakui dan tidak bersyukur atas yang dimiliki.

Dalam konteks ini, kita diingatkan untuk merenungi nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita, baik yang besar maupun yang kecil. Pesan ini mengajak manusia untuk lebih bersyukur dan menyadari betapa luar biasa karunia-Nya.

Mengapa Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban diulang 31 Kali?

Kata-kata tersebut sekaan di-spam oleh Tuhan karena diulang sebanyak 31 kali dalam Surat Ar-Rahman. Mengapa demikian? Apakah Tuhan “kesal” dengan manusia?

Makna dan Pola Pengulangan Ayat

Dalam tafsir Surat Ar-Rahman, pengulangan Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan? sebanyak 31 kali bukanlah suatu kebetulan atau sekadar pengulangan biasa.

Itu adalah metode yang sangat efektif dari Allah untuk mempertegas pesan yang ingin disampaikan, baik kepada manusia maupun jin. Sebagai salah satu sifat utama dalam komunikasi Allah, repetisi ini menciptakan dampak emosional dan kognitif bagi pembaca atau pendengarnya.

Secara linguistik, pengulangan dalam bahasa Arab—terutama dalam Al-Qur’an—sering digunakan untuk memberikan penekanan, memantapkan makna, dan memperdalam pemahaman.

Allah mengulang kalimat ini lebih dari tiga puluh kali dalam satu surah sebagai cara untuk mengingatkan manusia dan jin yang sering lupa atau bahkan mengingkari nikmat-Nya.

Repetisi ini menyoroti dua hal utama: pertama, banyaknya nikmat yang diberikan Allah kepada ciptaan-Nya; kedua, kecenderungan manusia untuk mengabaikan atau bahkan menyalahgunakan nikmat tersebut.

Dari sudut pandang sosial dan moral, pengulangan kalimat ini juga mengingatkan kita untuk tidak melupakan sesama. Di balik segala keberhasilan atau kenikmatan yang kita nikmati, ada tanggung jawab sosial untuk bersyukur dan berbagi.

Ketika kita mengabaikan nikmat Allah, kita cenderung menjadi sombong, egois, dan melupakan tugas kita untuk menjaga keseimbangan dalam hidup, termasuk dalam hubungan dengan sesama makhluk-Nya.

Pengulangan fabiayyi ala irobbikuma tukadziban terdapat dalam ayat 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, dan 77.

Implementasi Ayat

Arti dan Makna fabiayyi ala irobbikuma tukadziban

Syukur bukan hanya lewat ucapan saja, tetapi juga harus diwujudkan dalam tindakan. Untuk apa kita tahu arti dan makna dari ayat tersebut tapi dalam kehidupan, kita tidak mempraktekannya.

Itu tak lebih dari omong kosong saja.

Allah memerintahkan kita untuk bersyukur atas nikmat-Nya, dan salah satu bentuk syukur adalah menggunakan nikmat tersebut di jalan yang baik. Misalnya, jika kita diberi nikmat berupa harta, kita harus menggunakan harta tersebut untuk kebaikan, seperti membantu sesama, bersedekah, atau berinfaq.

Jika kita diberikan ilmu, maka kita harus mengamalkannya dan mengajarkannya kepada orang lain. Inilah bentuk nyata dari syukur, yakni dengan mempergunakan setiap nikmat untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Ayat ini juga mengingatkan kita untuk tidak mengingkari nikmat Allah dengan sikap kufur atau merasa sombong dengan apa yang telah kita capai. Banyak orang yang lupa bahwa segala sesuatu yang mereka miliki, baik itu kekayaan, jabatan, maupun kecerdasan, semua berasal dari Allah.

Kita tidak boleh merasa bahwa semua yang kita miliki adalah hasil usaha kita semata, tanpa menyadari bahwa Allah-lah yang memberikan segala kemampuan dan kesempatan. Jika kita merasa sombong atau menganggap bahwa nikmat tersebut adalah hasil usaha kita sendiri, maka kita telah terjatuh dalam kekufuran.


Rasulullah SAW secara khusus membacakan surah ini kepada jin, menghadirkan kesadaran akan nikmat tak terbantahkan dari Allah SWT yang tak bisa mereka dustakan.

Surat ini menggambarkan beragam kenikmatan yang dikurniakan Allah SWT kepada umat manusia, sambil mengungkap sifat surga dan neraka.

Nikmat terutama, menjadi hadiah berharga bagi seluruh ciptaan, mengalir dari kasih sayang Ilahi.

Lebih lanjut, surah ini menghadirkan janji kenikmatan istimewa bagi orang beriman di hari akhirat, sebuah harapan yang tak ternilai dari Allah SWT.

Setelah merenungi makna dalam kalimat fabiayyi ala irobbikuma tukadziban, terbuka juga pintu makna tentang manfaat yang terkandung dalam membaca Surah Ar-Rahman.

Bukan hanya sekadar kata-kata, berikut adalah sejumlah kebaikan yang dapat diperoleh oleh seorang muslim ketika membaca Surah Ar-Rahman dengan penuh khushu’ dan secara rutin:

  • Syafaat di Hari Kiamat: Setiap orang yang membaca Surah Ar-Rahman di malam hari atau pada sepertiga malam memiliki harapan untuk mendapatkan syafaat di hari Kiamat. Amalan ini menjadi bentuk investasi spiritual yang dapat membantu meraih belas kasihan Allah kelak.
  • Mengingat Kebaikan Allah: Setiap ayat dalam surah ini menggambarkan kebaikan Allah terhadap seluruh makhluk-Nya. Membacanya membangkitkan kesadaran akan kebaikan Allah terhadap setiap insan di dunia ini, mengingatkan kita akan nikmat-nikmat yang tercurah tanpa henti.
  • Menolak Kufur Nikmat: Membaca Surah Ar-Rahman membantu merasakan betapa besar nikmat hidup sebagai manusia. Kesadaran akan nikmat ini muncul dalam jiwa pembaca, menghindarkan dari sikap kufur nikmat yang sering tanpa disadari kita lakukan.
  • Ingatan pada Allah Tiada Henti: Setiap bacaan adalah tali yang menghubungkan dengan Sang Pencipta. Dengan membaca surah ini, ingatan dan kesadaran kita terpaut pada Allah dalam setiap detik kehidupan.
  • Bentuk Mahar Pernikahan: Keistimewaan surah ini juga terlihat dalam budaya pernikahan. Surah Ar-Rahman menjadi mahar yang istimewa, mengisyaratkan bahwa cinta dan kasih sayang pasangan pernikahan didasarkan pada rahmat Allah.
  • Penyelamat dan Penenang: Dalam situasi sulit dan hati yang gelisah, Surah Ar-Rahman hadir sebagai penyejuk jiwa. Membacanya dengan penuh keikhlasan membawa ketenangan, mengingatkan bahwa Allah senantiasa merahmati dan menjaga hamba-Nya.

Setiap bacaan menjadi jendela kehadiran Allah, mengalirkan rasa cinta dan penghargaan terhadap Sang Pencipta. Dengan meresapi setiap makna, Surah Ar-Rahman mengajarkan tentang rahmat-Nya yang tak terhingga dan kasih sayang-Nya yang tiada tara.

Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban dalam Tulisan Arab dan Latin

kaligrafi fabiayyi ala irobbikuma tukadziban vector

  • Dalam tulisan Arab: فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
  • Dalam tulisan Latin: Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban

Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban dalam bahasa arab dituliskan kurang lebih sebagai berikut:

فَبِأَيِّ ءَالَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Ada yang juga yang menuliskannya dalam versi lain seperti ini:

فَبِأَيِّ اٰلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Sedangkan tulisan dalam versi arab gundul tanpa harakat sebagai berikut:

فبأيّ الاء ربّكما تكذّبان

Apa jawaban Atas Nimat Tuhan Manakah yang Kamu Dustakan?

Jawaban atas pertanyaan ini adalah ajakan untuk tidak mendustakan atau mengingkari nikmat-nikmat Tuhan. Kita diingatkan tentang rahmat dan karunia-Nya yang melimpah.

Sebetulnya pertanyaan ini tergolong retoris alias tidak memerlukan jawaban. Pasaslnya, ini hanya mengingatkan kita akan kebesaran Allah dan anugerah-Nya. Tidak ada nikmat yang patut kita dustakan atau ingkari, karena setiap aspek kehidupan adalah sebuah karunia.

Jawabannya adalah bahwa kita tidak boleh mendustakan atau mengingkari setiap nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Ini mengajarkan kita untuk bersyukur dan menghindari sifat tidak bersyukur.

Arti Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban dalam Bahasa Inggris

Dalam bahasa Inggris, artinya adalah “So which of the favors of your Lord would you deny?

atau

So, which of the blessings of your Lord will you deny (O jinn and mankind)?

Itulah arti dan makna dari fabiayyi ala irobbikuma tukadziban yang terdapat dalam Surah Ar-Rahman. Makna syukur yang dimaksud dalam konteks ayat ini adalah mengakui dan menerima dengan penuh kesadaran segala nikmat yang diberikan oleh Allah.

Pesan ini menjadi panggilan bagi setiap insan untuk merenungi tanda-tanda kebesaran Tuhan di sekitar kita serta menghargai nikmat-nikmat yang tak terhitung jumlahnya.

Melalui Surah Ar-Rahman, kita diajak untuk menyadari bahwa kenyataan dan keajaiban dunia ini mengajarkan kepada kita betapa luar biasa kasih sayang Allah SWT terhadap semua makhluk-Nya.

Tambahkan Komentar

Sign up to receive the latest
updates and news

© 2025 Transaksion – Situs Jual Beli Barang & Jasa. Seluruh hak cipta dilindungi.