Kenapa Orang Indonesia Suka Nonton Film Horor Padahal Sampah?
Berdasarkan data, ternyata tingkat kepercayaan orang Indonesia terhadap hal gaib (dukun) itu setara dengan kepercayaan mereka terhadap ilmuan. Laporan dari survei ini dikemukakan oleh Wellcome Global Monitor 2020: Covid-19.
Ya, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap hal mistis setara dengan ilmu pengetahuan ilmiah. Benar-benar konyol tapi memang begitu adanya.
Tentu hal ini tercermin di banyak hal, misalnya orang sakit keras (parah) malah dibawa ke orang pintar karena diyakini kena guna-guna santet.
Kekurangan pengetahuan dalam ilmu kesehatan ini menjadikan mereka bodoh dan memvalidasi kebodohannya dengan pergi ke dukun.
Jika kebodohan tentang ilmu kesehatan ini tercermin juga dalam dunia otomotif maka saat motor mogok, orang-orang akan pergi ke dukun, bukan ke bengkel.
Tapi apa hubungannya dengan film horor?
Sampahnya Film Horor Indonesia

Anda sudah nonton film di atas? Kalau anda kasih nilai film Paku Tanah Jawa itu bagus, artinya otak anda konslet. Ini adalah contoh film setan super jelek, tidak ada poin bagus di film ini, sumpah!
Atau anda mau nyoba yang lebih menyiksa dengan menonton film Gundik karya Anggy Umbara si sutradara “absolute cinema” kalo bikin film horor.

Ini serupa dengan industri sinetron di Tv kita, isinya itu-itu saja. Tidak ada peningkatan kualitas dari tahun 2000-an sampai sekarang.
Istilah kata, sinetron itu bukan orang baik vs orang jahat, tapi orang jahat vs orang goblok. Kenapa? Karena karakter utamanya dibuat sebodoh mungkin sampai tidak mampu berpikir, minim usaha, justru kebanyakan nangis dan berdoa.
Para penikmat film horor ini tidak dibekali literasi media dan sinema sehingga mereka tak mampu menetapkan standar kualitas dari sebuah film.
Gampangnya, gak bisa bedain film jelek dan bagus. Asal ada hantu yang serem, jump scare yang bikin mereka kaget, ya itu udah masuk film bagus.
Tiga komponen utama dalam film itu ada visual, cerita, dan musik. Film horor di Indonesia itu rumusnya diulang terus:
- Kisah budaya jawa
- Agama Islam
- Kisah nyata
- Cerita viral
Astaga, kayak horor itu cuma begituan doang. Sempit bener. Padahal sub-genre horor itu ada banyak tapi pasar indo kayaknya cuma tau hantu aja. Jadi PH (production house) cuma ngerilis varian setan baru tiap bulan.
Emang genre film serem itu apa aja selain hantu? Ada banyak, misalnya:
- Horror Supranatural
- Psychological Horror
- Slasher
- Body Horror
- Folk Horror
- Zombie Horror
- Horror Sci-Fi
- Survival Horror
- Dll.
Sedangkan Indonesia dari dulu yang dibahas setan-setan terus, bahkan tiap bulan rilis 1-3 film setan. Kebanyakan kualitasnya sampah, bener-bener jelek. Tapi ini sesuai marketnya, selama kualitas penonton kita tidak pernah naik maka industri film akan tetap begitu.
Ngapain kita buang-buang duit bikin film bagus tapi yang nonton dikit, mending adaptasi cerita viral dah langsung laris. Iya, kan?!
Logika Cerita Super Ngawur

Penulis cerita seakan tidak menghormati kecerdasan penonton. Mereka anggap otak penonton itu idiot, ceritanya ngawur, pencahayaannya ngawur, aktingnya sampah, nakutin cuma modal jump scare murahan.
Coba ente liat itu gambar dari film horor kita, betapa itu mengencingi logika?! Ruang kelas mana yang bisa segelap itu? Bayangin aja coy, kita nyari lauk di situ aja pasti salah apalagi ini buat belajar, baca tulis. Mana keliatan, gila!
Atau, saat ada bahaya mendekat, entah dari setan atau apapun, si tokoh ini pasti teriak, bukan lari. Ini persis seperti sinetron kita, saat ada adegan ketabrak mobil, mereka gak lari menghindar malah teriak.
Tapi ini kan kita ngomongin film ghaib, logika nomor sekian dong!?
Justru karena gaib maka harus dibuat senatural mungkin, supaya penonton percaya bahwa kisah ini nyata dan benar-benar ada.
Dalam logika sederhana saja tidak mampu dibuat realistis, bagaimana kita berharap hantu bisa dibuat realistis?
Belom lagi soal cerita yang bener-bener ngawur, dangkal, gak ada pendalaman karakter dan sebagainya.
Saking malesnya mereka bikin cerita, ya mereka ambil dari thread viral, kisah viral, YouTube viral dengan embel-embel “Kisah Nyata dari YouTube Kang Mamat, Sudah Ditonton 15 Juta Kali di TikTok“.
Masih kurang, tambah lagi gimmick naroh pocong di tengah-tengah penonton atau pura-pura kesurupan pas nonton film.
Dan parahnya, itu semua berhasil! Astaga cok…
Lalu apa kata orang-orang bodoh yang menonton film itu?
“wah serem banget, plot twistnya bikin nangis, asli.”
“gila sih ini absolute cinema, harus nonton.”
Ini kualitas penonton kita benar-benar sampah, memang cocok dengan filmnya. Kalau kita masih doyan sama film model begini, sampe 40 tahun lagi pun gak akan ada peningkatan kualitas.
Coba bayangin YouTube kalo gak ada masukan, gak ada kritikan, gak ada perubahan, maka bentuknya akan begini terus:

Jelek? banget, karena gak ada peningkatan kualitas. Jelek ya dikritik, jelek banget ya dihujat. Nanti bakal ada peningkatan kualitas dalam industri film di Indonesia.
Minimal formula jump scare murahan itu dikurangi atau dibuat lebih “mahal” gitu, lho.
Ini contoh jump scare mahal dari film Longlegs, sinematografinya mantep, aspek rasionnya gila. Tanpa adegan ngagetin sekalipun udah bisa bikin takut secara psikologi.
Atau adegan biasa tapi bikin merinding pula…
Mayoritas film horor Indonesia masih mengandalkan tropes dan formula yang nyaris tidak berubah sejak era 2000-an:
- Tokoh kerasukan = wajib.
- Rumah tua = harus ada.
- Hantu perempuan = default setting.
- Plot twist = ditempel paksa menjelang akhir.
Alih-alih menyuguhkan ketakutan yang membekas secara psikologis, kebanyakan film horor kita justru mengandalkan kaget-kagetan murahan (jump scare) yang tidak membangun suasana, tidak menyentuh emosi, dan tidak meninggalkan kesan apa pun setelah penonton keluar dari bioskop.
Apakah Masih Ada Film Hantu Indonesia yang Bagus?
Tentu saja, tapi cukup sulit ditemukan. Mungkin dari 12 film horor yang dirilis, yang bagus cuma 1 dan itu gak bagus bagus amat (cuma mendingan).
Masih bisa dinikmati sebagai hiburan tapi jangan berharap banyak untuk aspek lainnya. Ya bisa dikatakan bagus kalau secara plot dibuat kompleks, ada pendalaman karakter, visual, scoring dan sebagainya.
Jarang sekali ada horor lokal yang bisa mengemas semua poin itu menjadi satu kesatuan utuh dan saya belum pernah nemu. Jadi gak banyak hal yang bisa dibahas di sini.
Kenapa Film Horor Laris Manis?

Bagi pelaku industri, horor adalah genre paling “aman”. Ia tidak memerlukan aktor mahal, tidak butuh lokasi yang banyak, dan tidak perlu efek CGI kelas Hollywood. Bahkan dengan naskah sederhana dan akting standar pun, film horor bisa menarik jutaan penonton.
Inilah daya tarik utama bagi rumah produksi. Dengan biaya rendah dan risiko kecil, film horor menjanjikan balik modal yang cepat, bahkan untung berlipat-lipat. Maka tak heran jika banyak film dibuat bukan untuk menyampaikan pesan, bukan untuk mendalami tema, melainkan murni demi mendulang untung.
Biaya produksi rendah, penonton tetap banyak, dan jika punya satu ikon hantu (walau norak), bisa jadi franchise. Ini adalah bentuk industri yang mengejar untung cepat, tanpa upaya membangun kualitas jangka panjang.
Sementara film luar negeri berlomba-lomba memperdalam tema horor lewat trauma psikologis, konflik moral, hingga alegori sosial, film horor lokal seringkali hanya sibuk mempamerkan penampakan demi penampakan.
Film horor Indonesia laku bukan karena kualitasnya, tapi karena kebutuhan pasar: hiburan ringan, cerita ringan dan budaya FOMO. Viral dikit ikutan, goblok dikit eh diikutin juga. Sayangnya, pasar yang besar ini tidak disuapi dengan nutrisi yang baik.
Layaknya makanan cepat saji: kenyang, tapi tidak bergizi.
Selama penonton tidak menuntut lebih, dan selama produser hanya mengejar untung tanpa tujuan lain, maka film horor Indonesia akan terus berada di tempat yang sama.
Penontonya gak peduli kualitas, production house cari untung ngikutin pasar, ya jadinya lingkaran setan. Gak akan ada perubahan, lebih menakutkan daripada film horor.