Kitab at-Tibyan dan Nilai-Nilai Penghafal Al-Qur’an yang Tak Lekang Waktu
Menghafal Al-Qur’an merupakan amalan yang sangat mulia dalam Islam. Namun, hafalan saja tidak cukup. Para ulama sejak dahulu mengingatkan pentingnya menjaga adab dan akhlak bagi siapa pun yang dekat dengan Al-Qur’an, baik sebagai penghafal, pembaca, maupun pengajar. Adab inilah yang menjadi ruh dari setiap interaksi seorang Muslim dengan kalam Allah.
Dalam tradisi keilmuan Islam, banyak ulama menulis karya-karya khusus yang membahas etika dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Salah satu karya yang dikenal luas adalah Kitab at-Tibyan fi Adabi Ḥamalatil Quran, yang disusun oleh Imam Nawawi. Kitab ini telah menjadi rujukan bagi banyak lembaga pendidikan Islam, khususnya di kalangan para penghafal Al-Qur’an.
Melalui kitab ini, Imam Nawawi memberikan tutorial tentang bagaimana seharusnya seseorang bersikap terhadap Al-Qur’an mulai dari niat yang benar, cara membaca, hingga adab terhadap guru dan sesama penuntut ilmu. Dengan memahami isinya, para pembaca bisa belajar bagaimana menjaga diri agar pantas menjadi bagian dari para penjaga Al-Qur’an.
Profil Kitab at-Tibyan fi Adabi Ḥamalatil Quran

Kitab at-Tibyan fi Adabi Ḥamalatil Quran merupakan salah satu karya penting dari Imam Nawawi, seorang ulama besar yang hidup pada abad ke-7 Hijriyah. Nama kitab ini bisa diterjemahkan sebagai “Penjelasan tentang Etika Para Pengemban Al-Qur’an”. Sesuai dengan judulnya, kitab ini membahas berbagai adab dan tata krama yang sebaiknya dijaga oleh orang-orang yang membaca, menghafal, atau mengajarkan Al-Qur’an.
Penulisnya, Imam Nawawi, dikenal luas di dunia Islam sebagai sosok yang sangat tekun, wara’, dan berilmu. Ia menulis banyak kitab yang sampai hari ini masih diajarkan di berbagai pesantren dan lembaga pendidikan Islam, seperti Riyadhus Shalihin dan Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Dalam at-Tibyan, beliau menaruh perhatian khusus pada pembinaan akhlak para penghafal Al-Qur’an agar tidak hanya kuat dalam hafalan, tetapi juga berperilaku mulia.
Kitab ini disusun dengan bahasa yang ringkas namun padat makna. Di dalamnya, Imam Nawawi mengumpulkan dalil dari Al-Qur’an dan hadis, serta pendapat para ulama, lalu merangkainya menjadi panduan praktis yang mudah dipahami. Meski ditulis ratusan tahun lalu, nasihat-nasihatnya tetap relevan hingga sekarang.
Biasanya, kitab ini dijadikan pegangan di berbagai pesantren tahfidz atau majelis ilmu yang fokus pada pembelajaran Al-Qur’an. Selain sebagai sumber ilmu, isi kitab ini juga berfungsi sebagai pengingat bagi para penuntut ilmu agar tidak melupakan pentingnya akhlak dalam menempuh jalan ilmu, terutama ilmu Al-Qur’an.
Struktur dan Kandungan Kitab
Kitab at-Tibyan fi Adabi Ḥamalatil Quran ditulis dengan susunan yang sederhana namun sistematis. Imam Nawawi membaginya ke dalam sejumlah pembahasan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan para penghafal dan pembelajar Al-Qur’an.
Setiap bagian disusun dengan tujuan untuk membentuk pribadi yang mampu mengimplementasikan isi Al-Quran sebagai sikap dan perilaku seorang muslim.
Di antara topik utama yang dibahas adalah keutamaan membaca dan menghafal Al-Qur’an. Imam Nawawi menjelaskan pahala yang dijanjikan bagi mereka yang menjaga hubungan dengan Al-Qur’an, baik dengan membaca, menghafal, maupun mengajarkannya kepada orang lain.
Kitab ini juga memuat adab-adab yang perlu diperhatikan oleh para penghafal Al-Qur’an, seperti menjaga kebersihan hati dan lisan, tidak menyombongkan diri karena hafalan, serta menjauhi perbuatan yang tidak layak dilakukan oleh seorang pencinta Al-Qur’an.
Imam Nawawi juga memberikan panduan tentang bagaimana bersikap dalam majelis ilmu, menghormati guru, serta memperlakukan sesama penuntut ilmu dengan baik.
Selain itu, beliau mengingatkan pentingnya niat yang lurus dan menjaga ketulusan saat berinteraksi dengan Al-Qur’an. Ada pula pembahasan mengenai larangan-larangan tertentu, seperti membaca Al-Qur’an dalam keadaan tidak suci, atau memperdengarkan bacaan dengan niat pamer.
Relevansi Kitab di Era Modern

Meskipun ditulis ratusan tahun lalu, isi Kitab at-Tibyan fi Adabi Ḥamalatil Quran masih sangat cocok diterapkan di masa sekarang. Banyak nilai-nilai yang dibahas di dalamnya tetap relevan, terutama di tengah kemajuan teknologi dan perubahan cara belajar yang serba cepat.
Di era digital, belajar dan menghafal Al-Qur’an bisa dilakukan lewat aplikasi, video, dan berbagai platform daring. Namun, kemudahan ini kadang membuat sebagian orang lupa pentingnya menjaga adab.
Di sinilah peran kitab at-Tibyan menjadi penting, karena isinya mengingatkan bahwa menghafal Al-Qur’an tidak hanya soal mengingat ayat, tapi juga soal membentuk sikap dan kebiasaan yang baik.
Banyak lembaga tahfidz dan pesantren modern yang masih menjadikan kitab ini sebagai bacaan wajib. Nasihat-nasihat dalam kitab ini membantu para santri dan pengajar agar tetap menjaga kesopanan, rendah hati, dan menghormati ilmu, meskipun mereka hidup di zaman yang serba instan.