Home Blog Review Film Review Film Abadi Nan Jaya (2025): Jamu Awet Muda yang Mengubah Desa Jadi Neraka
Review Film Abadi Nan Jaya (2025): Jamu Awet Muda yang Mengubah Desa Jadi Neraka

Review Film Abadi Nan Jaya (2025): Jamu Awet Muda yang Mengubah Desa Jadi Neraka

Awalnya saya kira “Abadi Nan Jaya” itu judul lagu dangdut. Tapi ternyata, itu nama sebuah film zombie lokal yang malah bikin saya mikir: “Lho, ini film Indonesia beneran? Kok niat amat!”

Film ini disutradarai oleh Kimo Stamboel, yang memang dikenal jago bikin film berdarah-darah tapi tetap seru ditonton. Dengan latar desa Jawa dan bumbu komedi receh yang nyeleneh, film ini jadi kombinasi aneh antara Resident Evil, Train to Busan, dan… iklan jamu yang gagal total.

Awal Cerita: Dari Jamu Awet Muda Jadi Bencana Desa

Ceritanya bermula dari Pak Dimin, pemilik perusahaan jamu rumahan yang sedang menguji produk terbarunya: jamu awet muda “Abadi Nan Jaya.”

Awalnya, jamu itu sukses besar. Keriput hilang, kulit kencang, indra manusia kembali tajam seperti masa muda. Tapi euforia itu nggak bertahan lama karena efek sampingnya ternyata mengerikan: mereka yang meminumnya perlahan berubah menjadi zombie haus darah.

Pak Dimin sendiri jadi korban pertama alias patient zero. Setelah meminum jamu “ANJ” (ya, akronim yang agak sial karena mirip umpatan anak muda di medsos 😅), ia berubah menjadi makhluk buas dan menyerang keluarganya sendiri. Istrinya Karina, anak-anaknya Kenes dan Bambang, serta cucunya Rayhan, panik dan berusaha melarikan diri.

Tapi layaknya film zombie pada umumnya, kekacauan cepat menyebar. Warga desa satu per satu terinfeksi, dan dalam waktu singkat, desa yang tadinya penuh hajatan berubah jadi ladang mayat hidup.

Sinopsis Film Abadi Nan Jaya

Sinopsis Film Abadi Nan Jaya

Sebuah pesta pernikahan yang semula penuh tawa dan kebahagiaan tiba-tiba berubah menjadi mimpi buruk. Sebuah mobil melaju kencang dan menabrak tenda hajatan yang berdiri di tengah jalan. Saat warga berusaha menolong dan meminta pertanggungjawaban dari sang pengemudi, yang keluar dari dalam mobil bukanlah manusia biasa matanya kosong, wajahnya menyerupai makhluk buas, dan tanpa ragu ia menggigit orang di sekitarnya.

Di tengah kekacauan itu, seorang gadis bernama Ningsih (Claresta Taufan) hanya bisa terdiam ngeri. Ia teringat ucapannya beberapa jam sebelumnya pada sang pacar, Rahman (Ardit Erwandha): “Kamu mau nunggu sampai aku mati baru melamar?” sebuah kalimat yang tiba-tiba terdengar seperti kutukan.

Kisah kemudian berbalik ke beberapa hari sebelum tragedi itu. Pasangan suami istri Kenes (Mikha Tambayong) dan Rudi (Dimas Anggara) bersama putra tunggal mereka, Raihan (Varen Erianda Calief), melakukan perjalanan dari Jakarta menuju desa Wanirejo di Jawa Tengah. Tujuan mereka sederhana meminta tanda tangan Pak Dimin (Donny Damara), ayah Kenes sekaligus pemilik perusahaan jamu tradisional ternama Wani Waras.

Perusahaan keluarga itu sebenarnya sudah sukses secara nasional, namun Rudi, sang menantu, berambisi besar. Ia ingin membawa jamu tradisional itu ke level industri dengan menggandeng perusahaan farmasi besar untuk melakukan merger. Namun, niat itu justru membuka kembali luka lama dalam keluarga.

Ketegangan pun muncul antara Kenes dan ayahnya, serta dengan Kirana (Eva Celia Lesmana), ibu tiri sekaligus sahabat masa kecilnya yang kini menjaga jarak. Belum lagi Bambang (Marthino Lio), kakak Kenes yang lebih sibuk bermain gim daring ketimbang membantu bisnis keluarga.

Konflik keluarga, ambisi bisnis, dan jamu “awet muda” ciptaan Pak Dimin menjadi awal dari bencana besar  bencana yang kelak akan membuat seluruh desa berubah menjadi neraka hidup.

Sudah Berharap Tapi Kecewa

Ketegangan, Komedi, dan Logika yang Kadang Tersesat

Meski berlabel thriller-horor, film ini sama sekali tidak gelap atau mencekam seperti film zombie kebanyakan. Tidak ada kabut, tidak ada suasana suram yang bikin merinding. Anehnya, justru inilah yang membuat “Abadi Nan Jaya” terasa segar atau malah ngakak di saat yang salah.

Ada momen di mana adegan yang seharusnya menegangkan malah jadi komedi: zombie mengejar warga tapi masih sempat ditawari naik truk ke puskesmas; atau adegan Karina dan cucunya yang bisa menahan tenaga zombie padahal sudah ketangkep. Entah disengaja atau tidak, film ini sukses bikin saya greget sekaligus tertawa.

Beberapa adegan aksi juga terasa janggal. Logika sering dilompati begitu saja, seperti tokoh yang tiba-tiba selamat dari situasi mustahil. Tapi ya sudahlah, mungkin ini bagian dari “cita rasa lokal” yang justru membuat film ini… unik.

Hubungan Manusia di Tengah Kekacauan

Selain zombie-zombie yang lapar, film ini menyelipkan drama keluarga dan persahabatan. Ada momen menyentuh antara Karina dan Kenes, dua sahabat lama yang kembali bertemu di tengah kekacauan.

Bambang bahkan mengorbankan diri dengan meledakkan granat bersama gerombolan zombie, sementara Kenes yang tergigit memilih menembak dirinya sendiri sebelum berubah.

Akhirnya hanya Karina dan Rayhan yang selamat setidaknya untuk sementara. Karena di adegan penutup, diperlihatkan seorang kolega Pak Dimin di Jakarta sedang meneguk jamu yang sama. Sebuah teaser halus bahwa wabah “Abadi Nan Jaya” belum berakhir dan kemungkinan besar… Jakarta akan jadi babak selanjutnya.

Aspek Teknis

Secara teknis, film ini mengejutkan. Visual efeknya halus, tata kamera solid, dan make up zombienya cukup realistis untuk ukuran film lokal. Bahkan beberapa adegan bisa menyaingi film luar negeri.

Untuk komposisi warnanya memang terlihat sangat cerah seperti film keluarga yang justru di satu sisi mengurangi kesan menyeramkannya tapi saat adegan di malam hari justru terlihat makin kontras (serem).

Alur plot cerita sendiri sama seperti film zombi lainnya, intinya para zombi ini kena virus, terkontaminasi, keracunan dan lain-lain. Beberapa adegan juga tidak masuk logika karena mungkin malas nulis cerita berat untuk pasar Indonesia.

Bagaimana mungkin seorang pemilik pabrik justru jadi kelinci percobaan jamu mereka sendiri?! Tidak mungkin ada.

Tidak mungkin juga mobil ugal-ugalan di desa tidak dihajar oleh warga dan malah bisa selesai begitu saja.

Tidak ada pendalaman mengenai filosofi jamu itu sendiri padahal ini adalah budaya yang sangat kental di negara kita.

Tambahkan Komentar

Sign up to receive the latest
updates and news

© 2025 Transaksion – Situs Jual Beli Barang & Jasa. Seluruh hak cipta dilindungi.